Senin, 08 Desember 2008

HIKING & HUNTING ANGGREK, BERSAMA SANG DOKTER

Catatan: Abdi Tumanggor

Taman Eden 100 berawal dari lahan kelurga yang ditanami bermacam pepohonan oleh L.Sirait. Dan memang bapak yang sudah berumur 71 tahun ini suka keindahan lingkungan dan tanam-tanaman. Lahan keluarga ini berbukit bukit, bukit paling tinggi ada 2500 m dari permukaan laut. Sejak tahun 1990 an dengan adanya seruan pemerintah baik itu dari seminar-seminar tentang lingkungan hidup maupun lembaga lainnya membuat bapak yang tetap terlihat sehat ini bertambah giat dalam melestarikan lingkungan, ditambah lagi dukungan dari anak-anaknya. Dan pada masa kepemimpinan Gubernur Sumatera Utara Raja Inal Siregar yang gencar meluncurkan program”Martabe” marsipature hutanabe (membenahi kampung halaman masing-masing) menambah semangatnya untuk membudi dayakan lahannya menjadi cagar alam , dan pada tahun 1998 dinamakan “Taman Eden 100”, walaupun pengelolaannya masih sangat tradisional karena ditangani oleh keluarga dengan biaya seadanya. “Taman Eden” yang artinya: Manusia, tanaman dan makhluk hidup lainnya hidup rukun di dalamnya. Sedangkan “100” artinya: seratus jenis tanaman pohon berbuah. Adapun misi Taman Eden 100 ini adalah untuk membuat desa percontohan di bidang pertanian, peternakan dan pariwisata. Membuat proyek agrowisata rohani. Mengadakan penelitian di bidang pertanian dan lingkungan hidup. Membantu pemerintah dan masyarakat dalam usaha melestarikan alam di sekitar Danau Toba. Melestarikan hutan serta isinya yang ada di lokasi agro wisata Taman Eden.
Agrowisata yang dimiliki oleh keluarga Sirait yang beristerikan boru Sitorus ini memang dirancang untuk mereka yang ingin menikmati suasana perkebunan dan pencinta lingkungan.

Di lahan yang sejuk ini, pengunjung bisa melihat langsung bagaimana pemeliharaan pohon buah-buah unggulan. Dan ada satu keunikan tersendiri, kita bebas mencari jenis-jenis bunga anggrek hutan yang langka dibawah pepohonan diatas bukit yang dipandu oleh pihak Taman Eden itu sendiri, yang tidak terlalu jauh dari posko utama."Kami juga menyediakan paket wisata menanam pohon bagi para tamu yang komitmen dalam pelestarian alam yang disediakan bibit dan pamflet nama. Jadi, pamflet nama penanam tersebut akan di tempelkan pada batang pohon tersebut" tutur Michael Sirait. Michael yang suka bunga-bungaan dan pehobi musik(seni) ini sangat ramah untuk memandu yang ingin berkeliling di lokasi wisata tersebut menambahkan,”selain menikmati keindahan bunga-bungaan dan pepohonan, pengunjung juga bisa menikmati indahnya pemandangan Danau Toba dan pulau Samosir".•••

Taman Eden 100 memiliki beberapa fenomena keunggulan lain yang menarik seperti pancuran air terjun dua tingkat, air terjun tujuh tingkat, gua kelelawar, gunung pangulubao, bukit manja, rumah tarzan, dll. “Sampai sekarang belum ada perhatian Pemkab Toba Samosir untuk Taman Eden ini”,tambahnya.Memang ucapan Michael ini bukan mengada-ngada. Kalau kita berjalan dimalam hari, pasti suasananya gelap gulita. Jalan setapak yang dilalui juga belum dilengkapi tanda-tanda yang permanen , dan belum dibuat bedeng sehingga kadang sulit dijalani dan terlihat sangat licin apalagi disaat menuruni bukit.Seharusnya kalau Pemkab (Tobasa) punya perhatian, sudah selayaknya Taman Eden ini di berikan bantuan biaya pengelolaan karena areal hutan ini merupakan kekayaan alam yang sangat tak ternilai harganya dan merupakan aset kebanggan daerah Tobasa yang tidak dipunyai daerah Kabupaten lainnya. Sangat unik dan luar biasa , selain penuh dengan tanaman langka, bahkan mempunyai areal perbukitan yang dihuni harimau Sumatera yang merupakan hewan langka didunia. Jejak sang penguasa hutan itu masih sering terlihat, bahkan ketika penulis dan rombongan mendaki di ketinggian 1500 dpl melihat dengan jelas jejak kaki si raja hutan tersebut. “Semoga Pemkab Tobasa terbuka hatinya untuk membantu Taman Eden ini”, ujar teman saya satu rombongan sambil berjalan menyelusuri pendakian kebun Taman Eden tersebut.


Dr RIA : “SAYA SIAP MENJADI IBU ASUH”
Orang yang suka keindahan dan pencinta keasrian lingkungan hidup ini sangat prihatin kalau ada orang yang mampu dan tega merusak alam dan tidak perduli dengan lingkungan. Seyogianya kita harus belajar banyak dari alam, katanya, sambil mendaki. Dialam, kita bisa melihat kebesaran Tuhan. Disini, kita bisa merenung, berdiam diri dan lebih banyak mendengar suara-suara alam , sangat kontras dengan kehidupan nyata, kita yang sebagai pemimpin selalu terus berbicara tanpa pernah mau mendengar suara-suara rakyat. Alam juga mengajarkan bahwa jalan dihutan yang tanpa arah akan menyesatkan orang didalamnya, artinya hidup tanpa arah yang jelas akan membuat kita berputar-putar pada kehidupan datar tanpa pengharapan dan kualitas. Alam yang asri juga adalah sumber oksigen murni yang tak ternilai harganya yang sangat diperlukan manusia. Dan oksigen itu ada pada tumbuhan dan pepohonan yang hijau. Jadi perlu dilestarikan dengan menjaga habitatnya.
Perkataan ini dibuktikan beliau selaku direktur RSUD Djasamen Saragih, yang dikenal telah bersusah payah membenahi Rumah Sakit Umum Kota Siantar, yang dulunya sering disebut”Ghost Hospital”.Rumah Sakit yang selalu dijuluki RS hantu itu ditatanya menjadi suatu rumah sakit yang ramah, indah lingkungan dan sangat asri. Dr.Ria yang rela meninggalkan keluarganya untuk membenahi Rumah Sakit Umum Djasamen Saragih ini terlihat sangat perduli dengan lingkungan rumah sakit dilihat dari penataan, pemeliharaan dan bahkan telah sukses membuat program penanaman duapuluh ribu pohon untuk areal Rumah Sakit biar kelihatan indah, sejuk, asri dan nyaman. Sekarang ke indahan, ke sejukan, ke asrian dan ke nyamanan itu sudah mulai ternodai oleh orang yang tidak suka kesejukan dan keasrian. Dimana ada kesejukan,keteduhan dan keindahan kalau telah ada yang tangan-tangan yang tega membabat pohon besar yang yang telah berumur tua demi untuk pendirian bangunan WC/Kamar Mandi Umum yang jelas sangat tidak layak dan sangat mengganggu keasrian lingkungan rumah sakit . Saya sangat kecewa dan prihatin, katanya sedih.

TETAP SEMANGAT DAN OPTIMIS
Pada siang hari ,Jumat 28 November 2008 , pekan lalu, rombongan kecil berangkat dari Kota Siantar yang penuh gejolak ini menuju Kecamatan Lumban Julu , Kabupaten Tobasa.Hanya menempuh perjalanan kira-kira satu jam tiba di Taman Eden dan tanpa singgah di pos utama pemandu yang merupakan anak pemilik lahan ini, langsung mengajak untuk mendaki salah satu bukit setelah mendengar tujuan rombongan adalah ingin melihat tanaman anggrek species. Perjalanan mendaki sampai ketinggian 2500 meter diatas permukaan laut itu ditempuh 2 (dua ) jam dengan melintasi rumah tarzan, yaitu rumah yang tinggi yang di buat diantara pepohonan yang besar. Perempuan enerjik yang suka canda dan tawa selama pendakian ini terlihat sangat terharu dan sangat bahagia melihat banyaknya jenis tanaman bunga anggrek hutan yang langka diketinggian bukit, walau selama observasi di tengah hutan, turun hujan yang cukup deras dan jalan licin. Dr.Ria , yang juga adalah anggota Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) cabang Medan, dan bercita cita membuka cabang PAI di P.Siantar , kelihatan tetap semangat, tidak kelihatan lelah dan selalu memberikan nasihat dari tanda tanda yang diberikan alam pada kehidupan manusia kepada penulis dan rombongan.
Dalam setiap lokasi yang terlihat ada anggrek, rombongan berhenti untuk mengagumi dan kadang kala diberi izin pemandu yang juga pemilik untuk diambil, jika populasinya terlihat banyak. Dan memang Dr.Ria rupanya sangat mengenal dan mencintai bunga anggrek hutan/ species. (bukan anggrek hibrida , seperti yang sering dijual dipasaran) . Penuturannya kemanapun dia pergi, baik ke luar negeri, akan mencari daerah yang mempunyai anggrek species,walaupun biasanya harus ke daerah pegunungan mencarinya , yang agak jauh dari kota. Di Bali , sasaran favoritnya adalah daerah Bedugul, daerah pegunungan yang mempunyai danau diatasnya. Sudah 3 kali beliau hunting anggrek hutan kesana karena jenisnya juga banyak. Dari Surabaya, Bandung dan Jakarta, dia juga sering membawa pulang anggrek hutan dan dicoba ditangkarkan di P.Siantar, karena alamnyayang sejuk sangat mendukung. Pernah, karena banyaknya anggrek hutan yang dibawanya dari daerah pegunungan di Bandung, kardusnya di tahan petugas di Airport Cengkareng, namun karena uletnya beliau meyakinkan pihak bandara, bahwa semua anggrek itu bukan untuk diperjual belikan tetapi untuk di tangkarkan, pihak bandara meloloskan.

Memang ada keasyikkan sendiri berburu dan bisa menangkarkan anggrek hutan ini, katanya. Banyak orang tidak menyukainya, karena harganya mahal , sulit didapat dan memang sulit untuk hidup apalagi berbunga, jika tidak bisa menguasai kebiasaan dan habitatnya. Rupanya kesulitan ini merupakan kepuasan tersendiri baginya. “Karena memang hidup saya penuh dengan tantangan yang akhirnya saya harus menyukai tantangan itu untuk mampu mengendalikannya, katanya tersenyum penuh optimis.” Kalau dilihat dari segudang hobby yang dipunyai perempuan ini, layak disebut seniman ketimbang dokter, karena selain mengoleksi tanaman anggrek hutan, ia ternyata mengoleksi berbagai barang antik,mulai guci, patung patung tua dari berbagai daerah, mengoleksi puluhan lukisan dan barang etnik lainnya, yang telah ditekuninya selama dua puluh tahunan lebih. Walau telah mengembara ke beberapa daerah , Dokter yang juga pintar bermain piano, menyanyi dan menulis puisi ini ternyata mempunyai ketertarikan khusus pada Taman Eden 100, apa lagi setelah melihat langsung banyaknya jenis bunga anggrek species yang ada di alamnya. Beliau prihatin, jika tidak dirawat dan ditangkar, tanaman ini akan punah sebelum dipelajari dan diteliti. Ada keinginannya yang disampaikan pada pemilik tanaman untuk membantu mencari, menghitung , memberi nama dan membudidayakan tanaman anggrek hutan yang istimewa ini. Bahkan beliau menawarkan koleksi buku dan katalog yang dimilikinya untuk dipinjamkan kepada pemilik. Koleksi buku anggreknya sangat banyak yang di hunting, juga dari berbagai tempat, beliau sering mencari buku import dari luar negeri, karena harganya murah disana dan lengkap. Di Indonesia, sangat mahal kalau buku import, katanya. Tak jarang karena kecintaannya pada tanaman ini dia menyelusuri internet untuk mengenal dan mengetahui habitat tanaman ini dan cara membudidayakannya. Ternyata perempuan ayu ini tidak main main dengan hobbynya, dia kuasai sampai nama nama latin anggrek tersebut. Satu harapannya, agar pemerintah membuat undang undang agar masyarakat umum tidak dibenarkan merusak hutan dan mengambil tanaman anggrek yang langka tanpa seizin dari yang berwenang. Akan punah jika tidak ditangkarkan. Di tempat penjualan bunga masih sering terlihat ada anggrek species yang diperjual belikan dengan harga yang sangat mahal , walau jelas dilindungi. Dikuatirkannya, jika tidak ada yang menangkarnya, maka populasi itu akan punah.Begitu malam sudah tiba dan hujan tinggal rintik-rintik rombongan turun dan tiba di rumah keluarga besar L.Sirait yang disebutkan disitu pos utama Taman Eden 100. Dengan penuh kekeluargaan, rombongan berkenalan dengan keluarga besar dan ternyata salah seorang anak L.Siarit tersebut dikenal oleh dr.Ria sebagai sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu yang dulunya selalu mengiringinya menyanyi diberbagai acara.Ternyata Tuhan mempertemukan kedua sahabat yang sudah lama sekali tidak bertemu.
“Pertemuan ini bukan kebetulan, kata sang dokter pada mereka, ini semua ternyata diatur oleh Tuhan, agar saya turun tangan membenahi Taman Eden ini.” Saat itu juga dengan penuh kekeluargaan dan penuh semangat dibicarakan langkah langkah kedepan yang akan dilakukan segera. Saya terbeban menolong mereka, katanya berulang ulang dalam perjalanan pulang. Tuhan sudah memanggil saya untuk melestarikan taman anggrek ini dan saya akan berusaha semampu saya melakukannya, katanya optimis. Saya berjanji akan menjadi ibu asuh, berdoalah agar Tuhan membuka jalan kepada kita, ucapnya yang disambut rasa haru dan ucapan syukur dari semua keluarga. Saat itu juga beliau berjanji mengirimkan dana 5(lima) juta rupiah sebagai awal membuat taman penangkaran di bawah,dan akan mengirimkan peralatan paranet, polybag dan menjanjikan mengirimkan secepatnya sebuah komputer untuk mengidentifikasi seluruh jenis anggrek yang ada. Sungguh luar biasa spontanitas kepedulian yang diberikan saat itu.
Jika Tuhan mengizinkan kita akan menjadi pembuka jalan untuk menjadikan ini satu satunya nanti Taman Anggrek Species di Sumatera Utara , bukan hanya kebanggan masyarakat Tobasa tapi seluruh masyarakat Sumatera Utara.Mudah mudahan dengan adanya ibu asuh , pengelolaan tanaman ini mulai terarah dan pihak lain baik pemerintah dan swasta tergerak untuk mendukung dan membantu pengelolaannya. Pertama sekali saya ingin meminta pemerintah Tobasa melalui PLN berkenan memberikan arus listrik ke dalam lokasi agar area ini terang, tidak seperti sekarang sangat gelap. Keluarga ini harus kita hargai, kita dukung upayanya untuk melestarikan alam dan lingkungan yang dipunyainya, jarang ada keluarga yang mau seperti ini. “Saya terharu dengan penuturan salah satu anak dari keluarga ini yang mengatakan sampai menjual semua perlatan musiknya untuk pengelolaan aset berharga ini”, kata dokter Ria ketika penulis menanyakan. “Dia sudah mendapat Kalpataru, mengharumkan nama masyarakat dan pemerintah di Kabupaten tempatnya tinggal, tetapi kenapa perhatian kepada mereka sangat kurang.

Taman Eden ini jika dikelola dengan sungguh-sungguh dan profesional akan menjadi aset yang sangat mahal harganya dan dapat meningkatkan ekonomi penduduk setempat dan menjadi sumber penghasilan yang besar bagi pemerintah dari sektor parawisata. Semua bisa dilakukan disini, wisata rohani, wisata agro,wisata study, tempat penelitian, sampai kepada pengembangan tempat pelatihan manajerial out bond (pelatihan manajemen dialam terbuka). Di Sumut pelatihan out bond baru ada di Sibolangit, padahal di Taman Eden ini tidak kalah indahnya dan arealnya sangat memungkinkan untuk itu, kata dokter yang pernah mengikuti pelatihan manajerial alam terbuka bagi para eselon 2 ini selama 2 hari penuh di Sibolangit. Mereka sekeluarga sudah memulainya dengan tulus dan tanpa pamrih, saya sangat salut , sudah sepantasnya mereka mendapatkan penghargaan dan dukungan”, kata perempuan ini sedih bercampur prihatin.
Mengucapkan Terimakasih
Sementara itu Marandus Sirait selaku pimpinan Taman Eden yang juga anak sulung keluarga yang pernah menerima penghargaan Kalpataru dari Bapak Presiden RI di istana negara, menuturkan keluarga tetap bersemangat untuk melakukan upaya menghidupi dan menutupi biaya pengelolan dengan melakukan beberapa kegiatan dengan memanfaatkan event atau moment tertentu misalnya , dalam rangka penghijauan dan peningkatan ekonomi masyarakat, pada bulan Desember 2007 tahun yang lalu, Taman Eden 100 mendirikan Bank Pohon untuk mensuplai bibit-bibit ke kawasan Danau Toba. Dalam hal peningkatan iman, Taman Eden 100 menyediakan lokasi terbuka untuk retreat gereja, sekolah,berkemah, mendaki gunung, repala, mapala, penelitian fauna-flora dan juga acara pernikahan yang bernuansa lingkungan hidup. Uniknya, dan patut di acungi jempol, di antara keterbatasan dana yang mereka hadapi,Taman Eden juga mengajak para donatur untuk membantu penyediaan bibit-bibit gratis kepada masyarakat yang kurang mampu. Mereka berikan secara gratis kepada siapa saja yang ingin nantinya memerlukan bibit tanaman dari mereka.Luar biasa...! Memberi dalam keterbatasan, bukan hal yang mudah, kalau bukan dilandasi hati yang tulus dan kepeduliaan kepada sesama, kata dokter Ria berguman.
Sebelum berpisah, Marandus, pria yang murah senyum ini mengucapkan terima kasih sebesar besarnya atas perhatian yang mendalam dari rombongan khususnya kepada Dr Ria, yang akan menjadi ibu asuh yang baru yang nantinya akan mengeluarkan tenaga dan waktu untuk membagi perhatian dan memberikan pembinaan di sela sela kesibukannya yang sudah memang padat, dan menambahkan pada hari Jumat 12 Desember 2008 mendatang, pukul 12.00 mereka melaksanakan Natal yang bernuansa lingkungan hidup dan wisata dengan masyarakat dan siapa saja pecinta lingkungan. Dengan Thema: “Save the People Save Lake Toba” mereka mengundang rombongan untuk datang pada hari tersebut.
“Natal ini bertujuan untuk melakukan tindakan nyata kepada pelestarian bumi sebagai kado natal kepada Tuhan, juga untuk mendekor, menghias bumi dengan dekor yang hidup (tanaman pohon, melepaskan burung-burung, binatang hutan dan ikan) sebagai ungkapan Syukur. Undangan terdiri dari pencinta alam/lingkungan, pelaku wisata, travel (medan, siantar, parapat dan tobasa), pemerhati lingkungan hidup dari Jerman, Kanada dan Australia. Selanjutnya, undangan juga dari penerima kalpataru dari daerah Kabuapaten Karo, Duta lingkungan hidup Toba Samosir dan pengkotbah Pdt. Darmawan dari Medan”, ucapnya mengakhiri pertemuan malam itu.•••

2 komentar:

cael mengatakan...

horas!hai semua crew orchid park.apa kabar?lama tak bersua.salam dari aggrek buat sobat2ku.michael

Mariana Hutasoit mengatakan...

selamat siang pak/bu, boleh tau nama nama anggreknya?